Hai bintang-bintang di langit malam…
Apakah kalian disana?
Apa kalian bisa mendengarku?
Hai bintang-bintang di langit malam…
Izinkan aku bercerita malam ini.
Walau aku tau, kalian sudah melihat semuanya dari atas sana.
Hai bintang-bintang di langit…
Kalian tau kan, ada seorang pria di luar sana.
Pria yang aku sayangi sepenuh hati.
Pria yang dengan bangganya aku panggil ‘adik’ walau ia tidak terlahir dari rahim ibuku.
Tapi taukah kalian, wahai bintang-bintang di langit malam…
Dia yang kusayangi sepenuh hati itu mungkin menganggap aku hanya sebagai 'perempuan aneh yang suka mengatur-atur".
Dia yang kusayangi sepenuh hati itu mungkin menganggap aku sebagai “gadis cerewet yang tidak penting”.
Bukannya aku ingin mengeluh, hai bintang-bintang di langit malam…
Hanya saja, ternyata hatiku belum sebegitu besar menyayanginya.
Hatiku masih menginginkan, walau kecil sekali, kalau dia menganggapku “sesuatu”.
Mungkin tidak sebesar aku menganggapnya, tapi setidaknya aku tidak ingin dianggap “sepele”.
Bintang-bintang di langit malam…
Aku mungkin bukan 'dia’ yang sejak awal diperhatikan.
Aku mungkin bukan 'dia’ yang pernah mengisi hatinya.
Aku mungkin bukan 'dia’ yang bisa memberikan kenyamanan.
Tapi…
Wahai bintang-bintang di langit malam…
Bisakah kalian menjaganya?
Melindungi dia dari apapun yang tersembunyi di gelapnya malam.
Menemaninya di kesendirian panjangnya.
Menghiburnya di saat-saat terendahnya.
Karena aku…
Aku cuma bisa mendoakan:
“Tuhan… Lindungi dia. Tolong hilangkan kekhawatiran ini dan biarkan ia bahagia. Sekalipun aku bukan bagian dari kebahagiaannya. Sekalipun aku bukanlah penyebabnya bahagia. Karena bagiku, tidak ada yang lebih menenangkan dibandingkan melihat senyum menghiasi wajahnya.”
Hai bintang-bintang di langit malam…
Bisa kan kalian sampaikan doaku pada Tuhan?
Karena hanya pada kalian, aku sanggup menceritakan segalanya.
Hanya kalian yang bisa mengerti aku.
Wahai bintang-bintang di langit malam…
0 comments:
Post a Comment