
Menangis itu refleksnya semua orang saat tersakiti.
Tapi mengatur kapan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menangis itu butuh lebih dari sekedar keterampilan. Namanya adalah kedewasaan.
*lagi butuh seseorang buat dipeluk 😢

Menangis itu refleksnya semua orang saat tersakiti.
Tapi mengatur kapan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menangis itu butuh lebih dari sekedar keterampilan. Namanya adalah kedewasaan.
*lagi butuh seseorang buat dipeluk 😢
Apa yang paling menyakitkan yang mungkin akan terjadi di dunia ini?
Buat gw, melihat orang yang gw sayangin menangis itu hal yang paling menyakitkan.
Adakah hal yang lebih menyakitkan dari itu?
Melihat orang yang gw sayang menangis… dan ternyata… Gw adalah penyebab dia menangis.
Hai bintang-bintang di langit malam…
Apakah kalian disana?
Apa kalian bisa mendengarku?
Hai bintang-bintang di langit malam…
Izinkan aku bercerita malam ini.
Walau aku tau, kalian sudah melihat semuanya dari atas sana.
Hai bintang-bintang di langit…
Kalian tau kan, ada seorang pria di luar sana.
Pria yang aku sayangi sepenuh hati.
Pria yang dengan bangganya aku panggil ‘adik’ walau ia tidak terlahir dari rahim ibuku.
Tapi taukah kalian, wahai bintang-bintang di langit malam…
Dia yang kusayangi sepenuh hati itu mungkin menganggap aku hanya sebagai 'perempuan aneh yang suka mengatur-atur".
Dia yang kusayangi sepenuh hati itu mungkin menganggap aku sebagai “gadis cerewet yang tidak penting”.
Bukannya aku ingin mengeluh, hai bintang-bintang di langit malam…
Hanya saja, ternyata hatiku belum sebegitu besar menyayanginya.
Hatiku masih menginginkan, walau kecil sekali, kalau dia menganggapku “sesuatu”.
Mungkin tidak sebesar aku menganggapnya, tapi setidaknya aku tidak ingin dianggap “sepele”.
Bintang-bintang di langit malam…
Aku mungkin bukan 'dia’ yang sejak awal diperhatikan.
Aku mungkin bukan 'dia’ yang pernah mengisi hatinya.
Aku mungkin bukan 'dia’ yang bisa memberikan kenyamanan.
Tapi…
Wahai bintang-bintang di langit malam…
Bisakah kalian menjaganya?
Melindungi dia dari apapun yang tersembunyi di gelapnya malam.
Menemaninya di kesendirian panjangnya.
Menghiburnya di saat-saat terendahnya.
Karena aku…
Aku cuma bisa mendoakan:
“Tuhan… Lindungi dia. Tolong hilangkan kekhawatiran ini dan biarkan ia bahagia. Sekalipun aku bukan bagian dari kebahagiaannya. Sekalipun aku bukanlah penyebabnya bahagia. Karena bagiku, tidak ada yang lebih menenangkan dibandingkan melihat senyum menghiasi wajahnya.”
Hai bintang-bintang di langit malam…
Bisa kan kalian sampaikan doaku pada Tuhan?
Karena hanya pada kalian, aku sanggup menceritakan segalanya.
Hanya kalian yang bisa mengerti aku.
Wahai bintang-bintang di langit malam…
Some thoughts cross in my mind today. Which one will hurt most?
- The one that you love leave you because: (s)he is in love with someone else or (s)he is just stop loving you?
- Someone you trusted didn’t want you to get hurt, so (s)he is: telling you the lie, withholding the truth or just telling you the truth.
- Your bestfriend didn’t tell you her(his) story because: (s)he don’t trust you or (s)he thinks it’s better to tell someone else first.
Well, to me the second choice are the worst. Someone stop loving me (because they just stop it), someone withholding the truth from me (it’s worst than telling lies) and my bestfriend chose to tell someone else about her story because she thinks it’s the best for everything.
When I love someone, I want it last. I don’t want to find a better half then I already have. It may use reasons to start loving me. But I hope he never need reasons to stay in love with me. If he, suddenly, fall out of love from me, there must be a reason or something is missing. The reason that makes him love me that might be missing. And it’s probably because I’ve done something wrong, that unrepaireable and unforgivable. That might have just failed me.
Telling me lies and I might not talk to you again until I can fully understand your excuse and forgive it. Withholding the truth from me means lose my respect and trust for the rest of your life. I like to take the truth. Even if that truth is unbearable. I chose to take the bitter start then sweet ending than sweet start that lead me to bitter end. Just.. be honest with me, because I have some trust issues in my past.
I am nobody. I can’t force anybody to do it. Even my family and friends. If they want to tell me, it’s an honor. If they don’t want to tell me the story, it’s their choice. I won’t force them to do that. Just… Please leave me in the dark. Pitch black. It feels better than you give me clues but won’t tell me the whole story.
So… I’m sorry if I heard so selfish. But the truth is, I usually prioritize anybody else business than mine. And that things you told me today, is something that hits my mind. Am I already become a great friend to you? Or I keep showing my selfishness that keeping me failed for become a good friend?
I still have those nervous feeling when you came around.
I still have those excited feeling when I see you near me.
I still have those happy feeling when you tried to talk to me
I still have those goosebumps when I see you smile.
But…
I still believe that God didn’t send you to me.
And
I still believe that we weren’t meant to be together
Teringat akan sebuah percakapan yang terjadi antara aku dan seorang sahabat. Saat itu aku sedang bercerita bahwa aku mengalami sebuah kecelakaan karena kelalaianku.
Ketika kecelakaan itu terjadi, perasaanku memang sedang tak menentu. Aku tidak mau mengatakan bahwa KAU adalah penyebab kecelakaan itu sampai terjadi. Karena pada saat kecelakaan itu terjadi, pikiranku justru tidak sedang memikirkan apapun. Karena aku baru saja mendengar sebuah berita bahagia mengenai dirimu.
Berita bahagia, yang harus kuakui, adalah berita sedih bagiku.
Sahabatku ini berkata:
“Keselamatanmu lebih penting. Dia bukan siapa-siapa bagimu. Tidak usah mempedulikan berita itu. Kecuali dia adalah pria yang baik dan perhatian padamu. barulah kau boleh memikirkannya. Aku nggak rela sahabatku tersakiti oleh pria yang bahkan untuk peduli denganmu saja tidak.”
Ketika kita bertemupun tidak ada yang berubah. Sekeras apapun aku berusaha untuk ramah padamu, kau akan selalu seperti tu.
Dingin.
Kaku.
Tak bersahabat.
Yaaaaahhhhh…….
Mungkin saat ini adalah saatnya bagiku untuk melepaskan apa yang kurasakan padamu. Apapun yang menjadi ketetapan-Nya, aku sudah siap menerima. Sekalipun kau adalah pria paling sempurna yang pernah kutemui, tapi satu hal yang aku tahu. Sesuatu yang sempurna bukan untuk dimiliki, hanya untuk sekedar dikagumi dan dipandangi dari kejauhan.
Ya Allah…
Senyum itu…
Candaan itu…
Bolehkah aku memilikinya?
Yang kau butuhkan adalah seseorang…
Seseorang yang tahu akan keadaan dirimu…
Seseorang yang bisa mengetahui apa yang kau pikirkan…
Seseorang yang bisa mengetahui apa yang kau inginkan…
Seseorang yang bisa memahami apa yang kau rasakan.
Aku…
Aku bisa melakukan itu…
Aku selalu berusaha untuk memahami dirimu…
Walau kemudian aku tak bisa, aku tetap akan berusaha…
Namun kau tidak bisa melakukan apa yang kulakukan itu.
Kau tidak bisa memahamiku.
Atau…
Kau memilih untuk tidak peduli?
-Bekasi, 28/07/2013-
23:00 WIB
For every time that we met,
For everything that you do,
Ignorance,,
Invisibility,,
Tiredness,,
Silence,,
There’s only one thing that I can remember from you.
SMILE
This means: you are human
This means: you are enjoying your life
And
This means: you are happy
…
…
Even without me by your side
E: “Lw masih ada perasaan sama dia?”
Q: “Masih. Emang kenapa?”
E: “Awet banget. Mau sampe kapan?”
Q: “Sampe dia ngasih undangan pernikahannya ke gw.”
*saya akan bertahan dengan perasaan ini. Sampai takdir mengatakan lain. Sampai keadaan dengan sangat jelas mengatakan bahwa kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama.
Q: *pengen nangis*
N: “Kalo itu bisa buat lebih plong, ga apa-apa nangis aja. Asal ga boleh jadi rapuh.”
Q: “ Nggak diizinin nangis sama Allah. Dari tadi ga dikasih kesempatan buat nangis. ”
N: “Berarti masih kuat kata Allah.”
*Masih kuat. Nggak boleh nyerah sama keadaan walaupun ujian ini rasanya beraaaaat banget
Aku nggak tau apa yang terjadi kemarin. Aku nggak tau apa yang terjadi padamu. Padaku. Yang aku tau, kemarin aku hanya berusaha untuk menjadi pengagum rahasiamu. Hanya memandangmu dari jauh tanpa berusaha untuk mendekat.
Seorang temanku memang pernah bilang, “bersabar dan cobalah untuk tidak melakukan apa-apa saat bertemu dengannya.” Akupun menuruti kata-katanya. Tapi aku nggak mau berbohong pada diriku sendiri. Ketika aku memikirkan akan bertemu denganmu saja aku sudah merasa sangat senang, walau aku juga merasa takut. Takut aku akan melakukan kebodohan lain yang akan membuat kau melihatku dengan tatapan yang tidak ingin aku lihat.
Tapi… Aku berhasil menahan euforia yang kurasakan saat bertemu denganmu. Aku tau kau ada di sana, itu sudah membuatku senang. Aku nggak butuh apa-apa lagi. Semua kerinduanku terobati sudah. Aku bisa melihatmu, berada sedekat ini denganmu, dan mendengar kau bercerita pada orang lain adalah ‘hadiah’ bagiku hari itu.
Dan kemarin, kau bersikap sangat menyenangkan. Kau menyapa. Kau tersenyum. Bahkan, KAU BERCANDA! Ini adalah kejadian langka. Aku hanya ingin mengatakan: “terima kasih, telah kembali menjadi dirimu saat kita baru pertama kali bertemu dulu.”
Terima kasih. Walaupun banyak hal yang terjadi kemarin, aku tetap merasa bahwa kemarin adalah hari yang sangat menyenangkan. Semua karena kehadiranmu. Semoga kau bisa mengetahui bahwa di sini, ada seseorang yang senang akan kehadiranmu. Di sini, ada seseorang yang bersyukur karena bisa bertemu denganmu.
Tiba-tiba teringat akan sesuatu.
Aku teringat akan satu hal yang selama ini tak penah kuperhatikan.
Mungkin wajahmu tak pernah menunjukkan tanda-tanda ekspresi.
Mungkin kau tidak pernah menunjukkan wajah ramah padaku.
Tapi ada satu hal yang membuatku menyukaimu.
Kau selalu mendengarkan kata-kataku.
Apapun hal yang terlontar dari mulutku, selalu kau dengarkan. Lelucon, pertanyaan iseng, bahkan pemberitahuan serius selalu kau dengarkan.
Aku menyukai orang yang mau mendengarkanku. Walau saat aku mengucapkannya kau seolah tak mendengarkan, tapi aku tau kau mendengarkan. Kau melakukan saranku atau menanggapi kalimatku. Dengan caramu sendiri.
Terima kasih.
Karena dengan sikapmu itu, aku merasa kau telah menghargaiku :)
Hari ini, aku tiba-tiba merasa sangat merindukanmu. Entah mengapa, padahal minggu lalu kita baru saja bertemu. Tapi, hari ini aku ingin sekali melihat wajahmu.
Tentu saja hal itu tidak akan mungkin terjadi. Jagat raya sedang menguji kesungguhan perasaanku. Makanya, aku hanya bisa membayangkan kau dalam pikiranku.
Aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Pertama kali kita bertemu. Ya… Saat kau menyapaku dengan begitu ramahnya dan aku yang begitu tidak pedulinya padamu. Sekarang… Semua itu berbeda 180 derajat.
Lalu aku juga mencoba mengingat berapa banyak ekspresi wajah yang kau punya. Aku punya 100, mungkin lebih. Karena aku sangat ekspresif dan lebih suka mengekspresikan semua dengan wajah. Tapi kau, kau berbeda. Aku bisa menghitung berapa banyak ekspresimu. Satu (jutek), dua (mengantuk), tiga (senyum). Um… Sepertinya hanya itu.
Aku mencoba sekuat tenaga, apalagi yang bisa kuingat tentang ekspresimu. Nggak ada. Aku nggak bisa mengingatnya. Tapi… Walau begitu, aku tidak bisa mengingat ekspresi negatifmu. Aku tetap tidak bisa mengingat wajah yang sering kau tunjukkan saat kita bertemu. Yang bis kuingat hanya senyum. Senyum yang kau tunjukkan pada orang lain. Senyum yang jarang terlontar untukku.
Tapi aku bersyukur karenanya. Aku tidak perlu mengingat sesuatu hal yang tidak menyenangkan. Yang perlu aku ingat hanya hal-hal yang membuatku senang. Dan dengan mengingat itu, rindukupun terobati.
Di sana… Di hari itu kita bertemu. Setelah sekian lama dipisahkan oleh jagat raya. Aku? Aku sangat senang melihatmu. Jantungku bergemuruh, otakku serasa macet. Masih sama persis seperti dulu.
Dan kau? Aku rasa masih sama. Dingin. Acuh tak acuh. Bahkan jutek. Yaa… Setidaknya, setelah sekian lama kau dan aku masih punya kesamaan.
Tapi… Jika kuingat permintaanku pada Tuhan, aku kira ini sesuatu. Mungkinkah Tuhan telah menjawab doaku? Apakah ini jawaban yang Ia berikan atas permintaan yang selalu terlontar dariku? Aku takut untuk menjawab ‘ya’. Tapi semua seolah mengarah ke jawaban yang aku minta.
Aku pernah meminta pada Tuhan, “Tuhan… Jikalau dia adalah yang terbaik untukku, maka dekatkanlah kami. Namun jika dia bukan yang terbaik untukku, maka kembalikanlah perasaan ini menjadi kekaguman biasa.” Maka… Yang mana jawaban untukku?
Hari ini, seorang teman berpesan: Kita akan mendapatkan apa yang kita pikirkan. Tapi… Seoptimis apapun kita akan apapun yang nantinya terjadi, sisakan satu ruang dalam hati untuk kenyataan terburuk karena kita hidup dalam “dunia berpasangan”.
Setiap suka akan bertemu duka.
Setiap tawa akan bertemu tangis.
Jadi…
Bagaimana aku harus mengartikan semua ini?
Apakah:
“Semua sedih yang hadir karenamu akan berakhir pada sesuatu yang bahagia.”
Atau
“Semua senang saatku bertemu denganmu hanyalah warna sementara dalam hidupku.”
Hanya waktu yang akan menjawabnya.
Eventhough this lead us to nothing, I still feel blessed you had left your print in my life, something that I never want to erase.

Hanya dengan melihat isi playlist, mood si pendengar bisa diidentifikasi dengan sangat baik (Mungkin begitu cara kerjanya Synapse Media Player) *Iyeeee… Gw lagi galau ╮(╯_╰")╭
Kita diajarkan di sekolah begini: Awan selamanya nggak akan bisa dipisahin dari hujan, karena tanpa awan nggak mungkin ada hujan. Begitu pula Pelangi, nggak akan muncul kalo nggak ada Hujan dan Matahari.
Jadi… Kalo dia adalah bulan dan aku adalah pelangi, akankah pelangi terlihat walau bulan bersinar sangat terangnya?
Waktu kecil aku sering mempertanyakan, kenapa Matahari disebut Raja Siang sementara rembulan disebut Dewi Malam. Kenapa Matahari harus menjadi seorang raja dan rembulan sebagai dewi? Kenapa bukan Ratu siang dan Raja malam?
Terserahlah apa kata ahli bahasa. Bukan itu yang mau aku sampaikan. Aku mau memberitahu kalau buatku: Kamu itu seperti Rembulan.
Kenapa?
Karena kamu ada di sana, terlihat, walau sulit untuk digapai. Bahkan tidak mungkin.
Malam saat munculnya rembulan itu sejuk. Sama seperti kehadiranmu. Menyejukkan.
Kau bersinar. Walau bukan karena sinarmu. Tapi aku tetap bisa melihatmu. Karena kau ada di sana. Lebih besar dibandingkan bintang lain yang mengeluarkan sinar sendiri.
Ya. Kamu seperti rembulan. Terlihat. Bersinar. Walau tak mungkin digapai. Tapi, kau selalu ada. Tak tersentuh, tapi terlihat. Bisa bertemu denganmu adalah waktu favoritku.
Apa yang harus aku lakukan? Aku menyukaimu dan ingin sekali kau tau akan hal itu. Tapi… Aku juga takut. Takut kalau ternyata perasaanku ini malah mengganggumu.
Aku teringat pelajaran yang baru saja kau ajarkan padaku. Kesabaran. Aku harus bisa bersabar menunggu sampai saat indah itu tiba.
Aku harus sabar. Karena apa yang kurasakan, kalau aku ingin semua ini bertahan sampai selamanya, maka aku harus menahannya sampai saat yang tepat itu tiba. Aku juga harus menahan agar tidak ada orang yang tau tentang perasaanku. Bahkan dirimu.
Cinta seperti apa yang aku rasakan ini? Mengapa aku tidak menginginkan kau mengetahui bahwa kehadiranmu selalu membuatku gugup? Mengapa aku tidak menginginkan kau tau bahwa apa yang kulakukan selalu kacau jika kau memperhatikanku? Apakah ini cinta, jika aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu saat kau terlihat sakit dan sedih saat melihat tidak ada senyum di wajahmu namun tidak melakukan apapun untuk menghiburmu?
Iya, itu cinta.
Cinta versi aku.
Seperti itulah bagaimana aku mencintaimu.
Kalau mereka mengatakan “cinta tak harus memiliki” hanya diucapkan oleh orang-orang yang SUDAH PASTI bertepuk sebelah tangan, tapi menurutku cinta memang seharusnya seperti itu.
Kalau ia membatasi, itu bukan cinta.
Kalau ia menyakiti, itu bukan cinta.
Lalu darimana datangnya kebahagiaan jika kau mencintai seseorang tapi tak bersama dengan yang dicintai? Hanya dengan melihatnya bahagia, maka akupun ikut bahagia. Ini bukan lamunan utopis. Tapi itulah yang aku pahami dan aku lakukan. Hanya dengan melihatmu tersenyum, tertawa dan bercanda dengan orang lain bisa membuat aku ikut merasa bahagia. Itu berarti, kau bisa kan bahagia tanpa aku? Karena aku bisa bahagia hanya dengan melihatmu.
Lalu, cinta apakah yang aku miliki ini? Aku sendiri tidak tahu namanya. Tapi yang aku tahu, aku berusaha untuk mengikhlaskan cintaku apapun yang terjadi.
Setiap hari, doaku pada Tuhanku selalu sama. “Tuhan… Jika hati ini memang kau ciptakan untuknya, maka tolong jaga hati ini sampai nanti ia bisa menerimanya. Tuhan, jika ia adalah pria terbaik yang engkau ciptakan untukku, maka tunjukkanlah jalan terbaik pada kami. Dan… Jika yang terbaik bagi kami adalah berdiri di jalan kami masing-masing dan bukan bersama, maka berikanlah keikhlasan padaku agar bisa mengembalikan perasaan ini menjadi sekedar kekaguman biasa.“
Ah… Aku lupa satu hal. Terima kasih. Terima kasih padamu. Kau telah mengajarkan satu hal lagi padaku. Kau telah mengajarkan padaku bagaimana caranya untuk IKHLAS :)