Showing posts with label Notes. Show all posts
Showing posts with label Notes. Show all posts

Friday, September 17, 2021

Kursi Listrik di Masa Lalu, Ponsel di Masa Kini

Edit Posted by with No comments

 


Ada yang nonton drakor ini?


Awalnya aku nonton drakor ini karena mau liat Jinyoung (aku bukan Ahgase-fansnya Got7, tapi aku selalu suka sama aktingnya dia). Tapi ternyata konsep dramanya ini bagus banget. Drama ini menggambarkan distopia Seoul di masa depan (jadinya kaya Gotham city gitu), ceritanya setelah mereka bisa menangani pandemi COVID19 ini. Setting kotanya tuh kumuhnya ya kumuh banget, tapi di bagian glamor ya glamor banget. Si pemeran utamanya, si Hakim Kang Yohan (diperanin sama Ji Sung) adalah hakim yang pengen banget mengadili orang-orang korup di negara itu namun nggak bisa tersentuh sama hukum karena mereka punya uang kekuasaan dan andil besar dalam mengembalikan kejayaan Seoul (bahkan mereka sampe bilangnya mengembalikan kejayaan Republik Korea Selatan). Cara yang dipake sama Kang Yohan ini adalah mengusulkan kepada Mahkamah Agung untuk melibatkan warga dalam sistem peradilan mereka. Bentuk nyatanya? Sebuah persidangan daring.


Ya, bener. Konsepnya unik banget.




Jadi, di ruang sidang ada satu hakim ketua (yaitu si Kang Yohan) dan dua asisten hakim (hakim Kim Gaon dan hakim Oh Jinjoo). Selain mereka, ada jaksa penuntut dan pengacara. Terdakwanya juga ada. Apa yang kurang? Juri. Iya, di ruang sidang daringnya Kang Yohan nggak ada jurinya. Trus terdakwa mendapat putusan bersalah atau nggak dari mana?



Dari voting rakyat. Ada aplikasi yang namanya DIKE. Aplikasi itu dipake untuk nonton live streaming dan vote langsung. Macem acara pencarian bakat gitu deh. Katanya ini untuk mempraktekkan demokrasi yang sesungguhnya (padahal mah... Jangan disebut deh. Ntar jadinya spoiler).

Anyway... Yang mau aku bahas bukan filmnya, bukan jalan ceritanya, tapi sesuatu yang aku sadari saat nonton episode 14. Coba liat dulu cuplikan video yang bikin aku terinspirasi dan akhirnya bikin tulisan ini.




Singkatnya, si terdakwa ini mengakui bahwa dirinya membunuh seorang warga sipil atas kesadaran diri dan bukan karena perintah atau paksaan. Setelah diputuskan dengan vote warga bahwa si terdakwa ini bersalah, Hakim Ketua memutuskan hukuman yang akan di jalani berdasarkan putusan hukuman mati yang dijatuhkan kepada terdakwa. Hukuman mati dengan kursi listrik. Yang membuat hukuman ini jadi "menarik" adalah eksekusinya. Nggak disebutin satu vote itu setara dengan berapa voltase, tapi dibilang kalo mau eksekusinya berhasil, votenya harus sampe minimal 1 juta vote. Mengerikan ya? Tapi waktu nonton episode ini, rasanya menegangkan loh.




Jadi... Waktu pertama kali ngeliat adegan ini, aku langsung keingetan sama ekperimen yang pernah dilakukan sama Stanley Milgram tentang kepatuhan dan setrum-menyentrum (kalau mau baca ringkasan eksperimennya, silahkan dibaca di page temenku, si Kimi, yang nggak pernah mau ngaku kalo aku nuduh dia sebagai orang pinter yang baik hati). Kenapa kepikiran sama Milgram, karena orang-orang ini tau bahwa vote mereka memberikan dampak pada si terdakwa. Mereka sadar bahwa mereka nggak mau disebut sebagai seorang pembunuh (dengan ikut serta dalam menaikkan voltase kursi listriknya yang bikin si terdakwa tersiksa), tapi mereka tetap tergerak untuk menekan satu vote di ponsel mereka demi ikut serta dalam menegakkan keadilan. Entah karena alasan konformitas (orang lain melakukan, jadi saya ikutan biar dianggap sudah ikut menegakkan keadilan) atau karena kepatuhan (dihimbau oleh Hakim Kang untuk memberikan hukuman yang setimpal dari kejahatan yang sudah dilakukan oleh terdakwa).

Terlepas dari alasan apapun yang menggerakkan publik untuk menaikkan voltase listriknya , ternyata hal ini cukup bisa menjadi analogi bagaimana cyberbullying merajalela di jaman sekarang. Kok bisa nyambungnya ke sana? Here's why. Pada dasarnya, bullying adalah sebuah cara yang digunakan orang (satu atau sekelompok orang) untuk mengontrol perilaku seseorang, dengan cara yang tidak baik dan tidak benar. Pada era globalisasi, pengontrolan perilaku ini "bisa" dilakukan dengan menggunakan media digital. Contohnya adalah media sosial (SNS-Social Network Services). 

Ada banyak kasus cyberbullying yang dilakukan oleh netizen di dunia, terutama Indonesia, yang dilakukan sebagai bentuk konformitas (ikutan ngebully karena yang lain juga ngebully) atau sebagai bentuk "penegakan keadilan". Pernah tau kasusnya youtuber Kazakhstan bernama Dayana? Atau drama Korea berjudul Racket Boys yang ratingnya terjun bebas setelah menghina Indonesia? Atau yang baru-baru ini terjadi, masih hot, pelaku pelecehan seksual di KPI Pusat yang merasa dibully massal karena identitas mereka diungkap secara gamblang oleh korban? 

Sebenarnya, kalau hanya satu orang yang menghujat, nggak akan ada rasanya (bukan berarti membenarkan bahwa satu-dua orang boleh menghujat orang lain). Analoginya ada di video eksekusinya. Ketika jumlah voters masih berjumlah puluhan atau ratusan, sang terdakwa nggak merasakan apapun, masih bisa ngomong secara jelas bahkan menantang perang urat saraf dengan Hakim Kang. Tapi ketika jumlahnya sudah mencapai ratusan ribu, sang terdakwa mulai merasa sensasi listriknya. Komen negatif, kata-kata kasar bahkan pelaporan untuk menonaktifan akun seseorang yang dilakukan oleh massa yang besar akan sangat terasa oleh korban. Orang-orang berbondong-bondong untuk menghujat, report, berkata-kata kasar dan kotor terhadap 'terdakwa' dengan dalih sebagai "Agen hukum karma" atau "membela korban". Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, jika pembelaan mereka terhadap korban menjadi sebuah gerakan cyberbullying, maka apa yang dilakukan oleh para 'agen penegak hukum' ini nggak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh terdakwa. Sang terdakwa kini menjadi 'korban' dan para 'agen penegak hukum' adalah pelakunya. Miris kan jadinya?

Bagiku, nge-judge seseorang dengan perilaku mereka adalah hal yang akan secara otomatis dilakukan oleh manusia. Boleh? Boleh aja, namanya juga proses otomatis. Emangnya bisa menghentikan sebuah proses otomatis? Tapi... Yang harus diperhatikan adalah apa yang dilakukan setelahnya. Kalo setelah menelaah dan mempersepsi sesuatu kita reaktif dan langsung berkomentar, menghujat dan menyerang balik perilaku orang yang kita nilai, ini yang nggak boleh. Aku pernah menjadi korban bullying sewaktu masih SD. Menghilangkan dampak negatif dari bullying ini sulit, bahkan bisa dibilang residu efeknya di aku masih ada. It stacked up and made my personality as I am now. Karena aku tau nggak enaknya di-bully itu kaya apa, aku jadi nggak reaktif terhadap sesuatu. Yaa... pernah sekali-kali kelepasan (namanya juga manusia), tapi nggak sampe menimbulkan agresi ke orang lain. 

Ingat teman-teman, apa yang dilakukan pada penelitian Milgram itu adalah "eksperimen". Dalam kondisi alamiahnya, bisa jadi mereka nggak akan mau disuruh nyetrum orang lain walau diminta atau walau itu adalah SOP yang harus dilakukan karena orang lain bersalah. Mereka tetap punya hati, mereka bisa berempati. Jadi... Kalau kalian nggak mau nyetrum orang lain yang berada di kursi listrik, kenapa kalian bersedia membuat orang lain menderita dengan komentar kalian?

Dan satu lagi.

Nggak ada satu orangpun di dunia berhak menjadi korban bullying. Seburuk apapun perilaku yang dilakukan oleh orang tersebut. Karena kalo mata dibales mata, maka dunia ini akan dipenuhi dengan orang buta.

Sunday, August 15, 2021

Skin Care is Self-Care

Edit Posted by with 1 comment



Beberapa pekan ke belakang, aku lagi suka banget nontonin video-videonya Cassandra Bankson. Dia itu beauty influencer yang berbasis di California. Kenapa aku jadi suka nontonin video-videonya? Karena dia ngebahas skincare bukan dari sudut pandang brand, tapi dari apa yang terkandung di dalam produk kecantikan itu. She reviewing them based on science, and that's what I love about her channel. Aku jadi tau kalo masalah sama mukaku ini musti cari produk apa supaya bisa mengatasinya. And so far, alhamdulillah her review and advice works well on me.

Selain itu, aku juga suka liat reaction videos to celebrity's skincare routine yang dia buat. Paling suka kalo liat reaksi dia kalo ada yang pake eye cream atau ada beauty product yang harganya diatas $100. Terutama review dia di skincare routine-nya Sam Smith. Serius deh, ekspresinya dia lucu banget di situ. She is so nerdy but adorkable 😍😍😍

Salah satu motto dari Cassandra adalah judul postingan ini. "Skincare is a self-care". Akupun ngerasa begitu. Baru setelah paham serunya berburu skincare, nyobain produknya, dan ngerasain hasilnya, baru berasa tuh yang namanya self-carenya kaya gimana. Nggak ada sih yang nyuruh aku buat spesifik pake skincare tertentu atau spesifik bilang "kamu jadi perempuan tuh harus cantik! Biar orang lain pada suka." Karena buatku, baik hati dan banyak pengetahuan (hawa-hawa anak Hufflepuff dan Ravenclaw emang ini) itu lebih penting dari cantik fisik. Tapiiii... Kalo dibilang nggak ada yang nyuruh juga sebenernya nggak juga, sih. Dalam agama tuh disebut kalo raga ini musti dijaga kesehatannya (termasuk kesehatan muka berarti kan ya?), sama kaya ngejaga supaya jiwanya nggak busuk dan suka ngejudge orang (eeh... Maap jadi ngegas 🤭🤭🤭).

Anyway... Kenapa jadi tiba-tiba ngomongin hal ini, karena beberapa hari yang lalu aku nonton salah satu video yang temanya "reaction to famous people skincare routines". Yang dia review waktu itu adalah seorang congresswoman namanya Alexandria Ocasio-Cortez. Di menit ke 4:41, dia menjelaskan kalo dia banyak banget dapet message dan DM di Instagram dari orang-orang yang nanyain tentang skincare dan make up dia (karena kulitnya bagus banget).

Alexandria Ocasio-Cortez

Lalu Cassandra menyambung pembicaraan dengan menanyakan "apakah kamu pernah dijudge karena menggunakan make up yang sebenarnya membuat kamu merasa bahagia, namun orang lain menilai kamu menggunakan make up itu karena lawan jenis?"



YES! I DO!!!!


Aku pernah dapet komen seperti itu. Jadi kejadiannya adalah di hari itu aku lagi nyoba lipstick baru. Warnanya aku suka. Well, aku memang waktu itu belum terlalu suka sama make up apalagi skincare. Jadi mungkin orang lain nggak terbiasa melihat aku menggunakan make up (but hey!!! There's always first time for everything!). Tapi yang paling nggak enak adalah ada seorang teman (yang kebetulan laki-laki) ketika liat aku pake lipstick itu, dia langsung komen "Mau ketemu sama siapa sih? Sampe pake lipstick kaya gitu. Biasanya juga nggak pake apa-apa."

Kalo boleh jujur, waktu itu aku kesel banget denger omongannya. Aku lupa sih nyautin dia atau nggak, yang jelas waktu itu aku berpikir "aneh ya kalo aku merasa pake lipstick itu menyenangkan? Apakah pake lipstik itu harus 'untuk orang lain'? Nggak boleh kah untuk diri sendiri?" Dan karena waktu itu aku masih newbs di dunia skincare dan make up (eh... sampe sekarang juga masih noob banget sama beginian), jadi langsung patah semangat gitu buat explore banyak make up (yes, orang yang komen ini WAKTU ITU adalah salah satu orang yang signifikan buat aku. His comment matters. Tapi sekarang udah nggak signifikan lagi. Aku bahkan udah nggak pernah ngobrol sama dia lagi). 

Tapi setelah temenan dengan orang-orang yang punya pemikiran yang lebih terbuka, aku balik mengeksplor dunia make up dan skincare lagi. Karena sekarang untuk diri aku sendiri, jadi aku nggak peduli apa kata orang. And thank God, aku sekarang dikelilingin sama orang-orang yang emang concern sama skincare dan make up. Bukan untuk tampil cantik dan menarik di depan orang lain, tapi untuk kesehatan diri sendiri.

Seperti yang jadi jargonnya Cassandra, Skincare is self care. Menjaga kesehatan kulit, bagian tubuh yang punya peran penting tapi sering disepelein sama orang-orang, berarti bertanggung jawab sama diri sendiri. So please, kalo kamu nggak ngerti betapa menyenangkannya ritual skincare dan make up untuk diri sendiri, nggak perlu ngejudge orang lain yang bisa membahagiakan dirinya dengan hal yang kamu nggak paham. Carilah sesuatu yang bisa bikin diri kamu bahagia. Daripada ngomongin dan ngejudge orang lain melulu. Ok?

Peace, Love and
Long Live an Prosper.

Wednesday, June 16, 2021

(I'm Trying to) Disclose About Myself

Edit Posted by with 2 comments
Malem-malem mau curhat aja... Karena beberapa hari ini kepikiran terus.

Jadi... Lagi rame soal vaksin kan ya? Beberapa orang yg hampir lose contact sama saya ketika ngobrol akhir-akhir inipun salah satu basa-basinya adalah "udah vaksin belum?". Tentu saja jawaban saya "Belum!". Bukan karena anti-vak, bukan karena nggak sepakat sama program pemerintah, tapi lebih kepada saya nggak punya previlage untuk mendapatkan vaksin di fase awal. 

Sekarang, saat dimana-mana sudah banyak program pemerintah untuk vaksin gratis, saya masih kesulitan mendapatkan akses ke sana. Kenapa? Saya bukan warga prioritas. Usia saya masih di bawah 60 tahun. Saya bukan guru, bukan PNS, bukan pegawai BUMN. Saya hanya seorang freelancer di sebuah kantor swasta (dan perusahaan tempat saya kerja nggak punya program kerja sama dengan rumah sakit/fasilitas kesehatan untuk menyelenggarakan vaksinasi massal) dan yg paling penting: KTP saya bukan KTP Jakarta dan saya tidak bekerja di Jakarta.

Tapi balik lagi, nggak punya previlage bukan berarti nggak usaha. Ya, saya udah usaha. Entah bagaimana jadinya, yang penting udah usaha. Kalopun harus nunggu programnya sampe ke Bekasi, ya udah ga apa-apa. In Kang Emil we trust!

Anyway... Bukan itu sebenernya yang mau dicurhatin. Jadi... Ada masalah lain mengenai vaksinasi yg sebenernya bikin saya maju mundur buat usaha. Apa masalahnya? Buat yang udah kenal saya dari lama dan kenal saya banget biasanya udah tau. Saya punya gangguan psikologis. Gangguan itu namanya Trypanophobia (fobia jarum suntik) (dulu sama dosen dibilang jangan bilang-bilang kalo punya fobia, nanti malah dijadiin bahan bercandaan sama orang yang nggak ngerti. But... I take my chance to help other people understand what we're going through from my point of view).

Reaksi yang biasa saya terima ketika saya mengungkapkan bahwa saya punya fobia ini adalah "Yaelah! Sama jarum segede gitu aja takut!" atau "Disuntik kan nggak sakit. Masa takut?" atau yang paling menyakitkan "Anak kecil aja nggak takut disuntik, masa kamu yang udah gede masih takut?"

Hhhh...

It's not about the pain.
I'm not fear of that needle/syringe.

I AM PHOBIA TO THAT!




Emang apa bedanya fobia sama takut? 

Ini ya... menurut Oxford dictionary, takut (fear) didefinisikan sebagai "an unpleasant emotion caused by the belief that someone or something is dangerous, likely to cause pain, or a threat." (sebuah ketidaknyamanan emosional yang disebabkan oleh pemikiran bahwa sesuatu akan menyebabkan rasa sakit atau sebuah ancaman) Dan "be afraid of (someone or something) as likely to be dangerous, painful, or threatening." (merasa takut terhadap sesuatu atau seseorang karena hal itu seperti berbahaya, menyakitkan atau mengancam). Sementara fobia didefinisikan sebagai "an extreme or irrational fear of or aversion to something." (ketakutan yang bersifat ekstrim atau tidak masuk akal, atau keengganan terhadap sesuatu). Coba diperhatikan ya... AN EXTEME OR IRRATIONAL FEAR OF!!!

Jadi... Fobia itu kalo dipikir-pikir oleh orang yang nggak mengalami yha... Nggak masuk akal, ngadi-ngadi, lebay dan semacamnya. Emang dari definisinya begitu. Dan yang persepsi oleh orang yang mengalami memang seperti itu. Nggak masuk akal banget gitu ada orang pas mati lampu langsung sesak napas atau ada orang liat darah langsung pingsan. Aneh kan?

Yah... Buat kita yang nggak punya fobia itu, emang terlihat aneh. Tapi bagi mereka yang mengalami, itu mengganggu. Iya emang aneh, si orangnya pasti setuju itu aneh. Tapi kata yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaannya (mungkin) adalah mengganggu. Karena dalam DSM V, fobia itu mengganggu. Mengganggu fungsi kehidupan seseorang karena besarnya dorongan untuk menghindari si trigger.

Kalo saya refleksi terhadap hidup saya sejauh ini... fobia ini memang mengganggu fungsi hidup saya. Nggak banyak memang, tapi tetep aja mengganggu. Kalo lagi liat IG trus ada yang posting foto sedang disuntik, HPnya bisa sampe saya buang. Kalo orang rumah lagi ngomongin tentang pengalaman mereka disuntik/infus/transfusi/donor darah, saya bisa histeris sendiri dengernya (literally nutup kuping, badan panas, muka merah, jantung berdebar cepat, dan bisa sampe nangis). Waktu saya saya harus cabut gigi karena geraham bungsu saya tumbuh abnormal, saya histeris di kursi dokter gigi saat saya sadar dokter akan nyuntik gusi saya biar saya nggak ngerasa sakit pas dicabut. Ah! Tahun lalu, saya nangis histeris di ruang dokter, sampe harus dipeluk sama ibu saya waktu kami vaksin meningitis (syarat wajib kalo mau umroh, walau umrohnya batal). Bahkan... Nulis cerita ini aja kepala saya rasanya pusing karena mau ga mau ngebayangin lagi kejadian-kejadian itu. 

Bentar...
Tarik napas dulu ya...
Ini jantungnya mendadak kaya abis balapan lari sama anjing.

Anyways...
Tujuan saya nulis ini adalah mau berbagi mengenai pengalaman emosional saya sebagai seseorang yang hidup bertahun-tahun dengan kecemasan terhadap sesuatu yang nggak mengancam hidup. Dengan berbagi cerita dari sudut pandang saya, saya pengen mengajak temen-temen semua untuk setidaknya aware kalo ada yang cerita mengenai kecemasannya. Entah hal yang dia ceritain itu beneran fobia atau "hanya sekedar" takut terhadap sesuatu. Pengalaman emosional tiap orang itu beda-beda. Saya menyadari kok kalo jarum suntik itu hadir untuk membantu kehidupan manusia. Tapi... Pengalaman dan trauma yang saya punya akan langsung membalik fakta itu kalo udah berhadapan langsung sama triggernya. 

Jadi... Kurang-kuranginlah menyepelekan emosi orang lain. Mau itu ketika seseorang bahagia banget karena hal yang menurut kita sepele (atau mungkin buat kita "masa hal kaya gitu aja senengnya kaya dapet duit 1M") atau ketika seseorang cemas, panik atau takut terhadap sesuatu yang buat kita biasa aja. Every emotion is valid. Hanya karena kita nggak paham dengan proses yang terjadi pada orang lain, bukan berarti hal itu salah. Mungkin kitanya yang kurang edukasi. Mungkin kitanya yang kurang paham. Mungkin kita perlu berempati sedikit lebih baik lagi.

So...
Be kind to others.
Kamu nggak tau mereka udah melalui apa sampai bisa jadi seperti sekarang.

Peace, love, and
Long live and prosper 

🖖

My Cactus Book

Edit Posted by with 2 comments



Aku baru beli buku. Sebuah note book. Aku namain buku ini "Buku Kaktus". Aku mau bikin buku ini sebagai quotes compilation karena ternyata aku nggak bisa segampang itu mengupdate blog. Banyak yang harus disiapkan dan dicari kalo mau bikin postingan di blog, tapi aku cukup sedia pulpen warna-warni untuk nulis di buku tulis. Ditambah aku bisa update kapan aja. Dan... Aku perlu nulis (literally menulis di atas kertas dengan pensil/pulpen) biar tangannya nggak lupa caranya nulis. Ini aja... Udah jadi semakin jelek tulisannya (aku sadar kok dari dulu tulisanku jelek). Jadi perlu latihan sesekali.


And turns out...
I love writing!! 
I really do 😍😍😍



 

Friday, April 16, 2021

Refresh

Edit Posted by with No comments

Setelah sekian lama aku nggak update blog-ku (karena writing block), aku akhirnya memutuskan untuk… Nggak melanjutkan writing challenge-nya. Aku akan mulai mengumpulkan material untuk menulis secara bebas. Semoga… Blog ini bisa kembali aktif 🤭🤭🤭 *fingers crossed*

Thursday, January 5, 2017

Rasa Sakit

Edit Posted by with No comments

Menangis itu refleksnya semua orang saat tersakiti.


Tapi mengatur kapan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menangis itu butuh lebih dari sekedar keterampilan. Namanya adalah kedewasaan.

*lagi butuh seseorang buat dipeluk 😢

Saturday, March 26, 2016

Cat Photo

Edit Posted by with No comments

Lagi asik makan es krim roll sambil ngobrol sama Kakak, tiba-tiba disamperin cewek cantik. Jinak banget. Kaya ada yang melihara. Dielus dan digendongpun nggak takut.


Sampe akhirnya yang punya ruko makanan dateng. Si Cantik ini langsung ngibrit buat ngikutin si Mamas pemilik ruko. Nggak lama setelah itu si Mamas ngambil kaleng dan ngasih makan si Cantik.


Kakak cuma bilang: “Mamasnya langsung tambah ganteng setelah ngasih makan kucing.”


Nyiahahahaha… 😂😂😂

Tuesday, February 16, 2016

Hal Yang Paling Menyakitkan

Edit Posted by with No comments

Apa yang paling menyakitkan yang mungkin akan terjadi di dunia ini?

Buat gw, melihat orang yang gw sayangin menangis itu hal yang paling menyakitkan.

Adakah hal yang lebih menyakitkan dari itu?

Melihat orang yang gw sayang menangis… dan ternyata… Gw adalah penyebab dia menangis.

Monday, October 12, 2015

Forever Friend

Edit Posted by with No comments

Sometimes in life, you find a special friend.



Someone who changes your life just by being part of it.
Someone who makes you laugh until you can’t stop.
Someone who makes you believe that there really is good in the world.
Someone who convinces you that there really is an unlocked door just waiting for you to open it.


This is forever friendship.


When you’re down and the world seems dark and empty, your forever friend lifts you up in spirit and makes that dark and empty world suddenly seem bright and full.


Your forever friend gets you through the hard times, the sad times and confused times.
If you turn and walk away, your forever friend follows. If you lose your way, your forever friend guides you and cheers you on.
Your forever friend holds your hand and tells you that everything is going to be okay.
And if you find such a friend, you feel happy and complete because you need not worry.


You have a forever friend and forever has no end.



*love you, my Forever Friend (Bebep Nyong)
😘😘😘

Tuesday, September 29, 2015

Dewasa

Edit Posted by with No comments

Mungkin Allah mempertemukan kita karena Allah mau mengajarkan sesuatu sama aku. Allah mau buat aku jadi lebih dewasa.


Allah mau ngasih tau kalo nggak semua orang itu bisa dipercaya. Allah mau ngajarin bagaimana caranya menghadapi manusia bermuka dua.


Tapi yang paling penting, Allah mau buat aku jadi lebih dewasa. Jadi… Ini saat yang tepat untuk belajar memaafkan mereka yang sudah menyakiti. Iya… Belajar untuk memaafkan. Bukan untuk mereka yang udah menyakiti, tapi untuk diri sendiri. Untuk belajar menjadi DEWASA.

Friday, August 21, 2015

Capek

Edit Posted by with No comments

Kalo capek, tidur…
*semoga besok pas bangun, capeknya ilang*
🙏🙏🙏

Wednesday, February 18, 2015

Notes

Edit Posted by with No comments

Growing up I always thought true love was red roses, dates on Saturday nights, little block box that held expensive things, and always knowing what to say. I thought true love was a kiss in the rain, deep explanations, and the perfect story. But now that I’m older I’ve realized it’s not like that at all.


See because true love for me is ugly snapchats, and peeing while you’re on the phone. True love is kissing at 6 AM despite the morning breath and singing at the top of your lungs. It’s saying all the wrong things, at all the wrong moments. It’s sarcasm and being honest even when it hurts. It’s late hours of the night when it’s been a long day and it’s no make up and bad hair. It’s tears from laughter, it’s tears from sadness and it’s nothing like any storybook you’ve ever read. It’s never running out of things to talk about, and it’s being comfortable in the silence of things. True love is watching The Titanic though you swore you never would. It’s getting mad over stupid things. It’s “you’re an idiot,” and “you’re a little shit” and knowing you’re so lucky to hear those every day. It’s spilling your feelings at 4 AM when you should be asleep. It’s that song you hear on the radio that always makes you smile. It’s the worst story you could imagine, but thank God it worked out anyways. True love is never losing the magic. True love is not leaving when things get hard.



I like my definition better anyways.



Another Piece About You  (via suchvodka)


Monday, February 16, 2015

Curhat Malam #1

Edit Posted by with No comments

Hai bintang-bintang di langit malam…
Apakah kalian disana?
Apa kalian bisa mendengarku?


Hai bintang-bintang di langit malam…
Izinkan aku bercerita malam ini.
Walau aku tau, kalian sudah melihat semuanya dari atas sana.


Hai bintang-bintang di langit…
Kalian tau kan, ada seorang pria di luar sana.
Pria yang aku sayangi sepenuh hati.
Pria yang dengan bangganya aku panggil ‘adik’ walau ia tidak terlahir dari rahim ibuku.


Tapi taukah kalian, wahai bintang-bintang di langit malam…
Dia yang kusayangi sepenuh hati itu mungkin menganggap aku hanya sebagai 'perempuan aneh yang suka mengatur-atur".
Dia yang kusayangi sepenuh hati itu mungkin menganggap aku sebagai “gadis cerewet yang tidak penting”.


Bukannya aku ingin mengeluh, hai bintang-bintang di langit malam…
Hanya saja, ternyata hatiku belum sebegitu besar menyayanginya.
Hatiku masih menginginkan, walau kecil sekali, kalau dia menganggapku “sesuatu”.
Mungkin tidak sebesar aku menganggapnya, tapi setidaknya aku tidak ingin dianggap “sepele”.


Bintang-bintang di langit malam…
Aku mungkin bukan 'dia’ yang sejak awal diperhatikan.
Aku mungkin bukan 'dia’ yang pernah mengisi hatinya.
Aku mungkin bukan 'dia’ yang bisa memberikan kenyamanan.
Tapi…


Wahai bintang-bintang di langit malam…
Bisakah kalian menjaganya?
Melindungi dia dari apapun yang tersembunyi di gelapnya malam.
Menemaninya di kesendirian panjangnya.
Menghiburnya di saat-saat terendahnya.


Karena aku…
Aku cuma bisa mendoakan:
“Tuhan… Lindungi dia. Tolong hilangkan kekhawatiran ini dan biarkan ia bahagia. Sekalipun aku bukan bagian dari kebahagiaannya. Sekalipun aku bukanlah penyebabnya bahagia. Karena bagiku, tidak ada yang lebih menenangkan dibandingkan melihat senyum menghiasi wajahnya.”



Hai bintang-bintang di langit malam…
Bisa kan kalian sampaikan doaku pada Tuhan?
Karena hanya pada kalian, aku sanggup menceritakan segalanya.
Hanya kalian yang bisa mengerti aku.
Wahai bintang-bintang di langit malam…

Saturday, February 7, 2015

My Music Mood

Edit Posted by with No comments

Ini hati rasanya kaya lagi diaduk-aduk pake sekop semen. Ditusuk, dilempar, dipukul dan diratain sama tanah. Nggak peduli bentuknya kaya gimana, yang penting udah rata sama tanah, berarti “tugas” udah selesai.


Hhhh….


Seandainya menangis itu semudah langit menumpahkan air hujan ke dunia, pasti rasanya nggak bakal kaya gini.


2AM - 니 맘 다 알아 (I know your heart)


Tuesday, October 7, 2014

Baru Ingat, Ini Malam Minggu...

Edit Posted by with No comments

Tadi jalan-jalan ke sebuah pasar swalayan. Sambil bercanda dengan keponakan yang paling kecil, sekedar muter-muter di lorong-lorong supermarket tersebut. Nggak sengaja papasan sama seseorang yang langsung bikin deg-deg seeerrr…


Inget banget muka itu…
Inget ekspresi itu…
Inget tatapan mata itu…
Inget kebiasaan menggigit bibir itu…


Tapi tau nggak? Waktu kita bertukar pandangan, aku langsung tau kalo kamu nggak inget sama aku.


Di waktu yang lain, kita juga pernah mengalami kejadian yang sama. Beberapa kali kita berpapasan di kampus, di dalam kendaraan umum, tapi nggak ada tanda-tanda kau mengingatku.


Tapi apapun keadaannya, ketika aku bertemu denganmu pasti kondisinya sama.


Jantungku berdegup kencang.
Malu, walau aku tidak melakukan apapun yg memalukan.
Mendadak tidak bisa berkata-kata.
Dan juga… Salah tingkah.


Hhhhh… Semua jadi aneh.
Kenapa selalu seperti ini?
Mengapa aku tidak pernah bisa bersikap normal ketika ada dirimu?


Jawabannya sederhana.


Karena kamu adalah CINTA PERTAMAKU.

Friday, September 19, 2014

Notes

Edit Posted by with No comments

Tangan itu kaya hati. Diciptakan oleh Allah bukan cuma buat diri sendiri tapi juga buat orang lain. Jadi kalo tangan digunakan untuk membantu diri sendiri dan orang lain, maka hatipun begitu. Gunakanlah hati untuk merasakan apa yg ada pada diri sendiri dan juga apa yang akan dirasakan oleh orang lain.


Jadi… Kalo ingin dibantu, sudahkan membantu orang lain? Kalau ingin dimengerti oleh orang lain, sudahkan mengerti orang lain? Kita hidup dikelilingi manusia yang memiliki hati dan perasaan loh, bukan dikelilingi sama robot.



Me, on my bed before sleep time (2014)

Friday, August 15, 2014

Some things you might want to know about me

Edit Posted by with No comments
I just want to remind you. If you find me cranky, I might be on one of these circumstances; I’m deadly starving or I’m almost at my periode (PMS). So… Please, don’t take everything personally. It wasn’t me who speaking



Saturday, April 5, 2014

True Love

Edit Posted by with No comments

Hati manusia itu SATU. Diciptakan Allah untuk mencintai SATU manusia. Kalau ada yang memiliki SATU hati namun yang dicintai ada banyak, itu bukan cinta. itu NAFSU *abis membuktikan sendiri*


 

Wednesday, April 2, 2014

Heart

Edit Posted by with No comments

Heart is the most important part of the human body. Heart bring all thing that human needs to keep alive. Once the heart dies, it will give a domino effect that can cause death.


People usually talk about heart, as an analogy. Heart, as in “broken heart”, means ‘hati’ (in my original language, Indonesia). Which can translate as 'Liver’.


Liver is one of the most amazing humans. The liver also plays an important part in the human body. It filters all the toxic and unusable blood parts and makes the new blood cells. And as we know, blood cells use to carry oxygen and nutrition to all of the human parts.


When the liver gets broken, it can repair by itself. When someone needs a transplant, people from the same type of blood and have matching characteristics can donor the liver. To the donor, the liver of a donor can regenerate and be completed in time. So people don’t need to be worried that they will live with 'half-liver’ or 'incomplete-liver’.


What happens in 'broken heart is actually the same as 'rupture liver’. As time goes by, the heart can be whole again. People just have to be patient and let everything as it goes.


If I say… I left ¼ in Makkah and ¾ of my heart in Medina. I also accidentally give a little piece of my heart to someone in Madinah. But I still have to say that my heart will be complete again in a matter of time. I just have to be patient and ikhlas.


I will be ok.
I will be complete again.

Wednesday, March 19, 2014

A Little Thing In Mind

Edit Posted by with No comments

So… Here what’s been crossing my mind lately.



Have you ever been in deeply stress? Can you identify the trigger?
And how you pull yourself out of that trigger?



Well…



I have a condition.



What will happen if there’s an extrovert person can’t find friend or maybe human being to be talked with?



Is she going to be stress?
Or…
Is she going to be alright?



And how about this condition?



What will happrn if there’s an introvert person can’t find someone to be trust and treated like a best friend?

Is the stress will feel the same as the extrovert one?
Or worse?
Or maybe less?

To me personally, I can’t figure the answer because I haven’t decided to be intovert type or the extrovert type.