Biasanya sih nunggu beberapa bulan untuk beli buku barunya Penerbit Haru, tapi pas dapet diskonan di tanggal kembar, jadi langsung beli. Buku ini masuknya cetakan pertama bahasa Indonesia, jadi aku masih memaklumi kalo di buku ini ada banyak typoo-nya. Baaaaaaaaaaanyak banget typoo-nya. Aku merasa ini buku terbitan Haru yang paling banyak typoo-nya, entah kenapa.
Sebenarnya ceritanya bagus banget. Tokoh utamanya dua orang, tapi yang lebih dieksplor adalah proses berpikirnya Sohei Saikawa. Untungnya ini novel, segala sesuatunya harus dibayangkan. Karena baca Saikawa-sensei merokok dimanapun, kapanpun, rasanya... Sesak napas. Tapi... Karena rokok itu dia bisa berpikir luar biasa. Bukan sebuah pembenaran, tapi... Memang begitu jalan ceritanya. Rokok itu buruk bagi kesehatan, Saikawa-sensei juga ngomong begitu kok. Bahkan saat Moe Nishinosono mau nyoba, ga pernah diizinin.
Kalo ngomongin jalan cerita, sperti kebanyakan novel iya-mishu dari Penerbit Haru lainnya, buku ini juga punya plot twist yang bikin melongo. Nggak kepikiran sampe sana kalo ceritanya bakalan begitu. Dan aku sih nggak berusaha menebak karena aku tipenya yang menikmati kecurigaan dan menikmati proses, jadi lanjut aja terus bacanya sampe halaman 444.
Yaaaaa... Ini novel tebel, walau termasuk page turner (nggak berasa 15 menit bisa baca 20-30 halaman atau lebih, aku nggak ngitungin sederil itu). Jadi emang kalo dibawa jalan-jalan rasanya berat banget, tapi untuk dinikmati jalan ceritanya, buku setebel itu emang mendarangkan kepuasan sendiri. Cuma memang karena settingnya lab riset yang penih dengan komputer, jadi banyak percakapan melibatkan bahasa pemrograman. Aku sendiri agak pusing di bagian itu, tapi ga papa. Nggak perlu dipahami semendetil itu. Percaya aja sama apa yang diomongin sama tokoh-tokohnya.
Kesimpulannya, untuk bilang ini buku Penerbit Haru yang paling bagus sih... Nggak ya. Masih ada yg lebih dibandingkan ini. Tapi buku ini worth to read. Saaaangat worth to read. Sangat menghibur, nggak ngebosenin dan nggak slow paced. Kalau memang pencinta novel Asia Timur, bergenre mystery/thriller, buku ini cocok buat jadi TBR selanjutnya.
Jadi... Selama liburan ini aku lagi berusaha mengurangi TBR novel yang sudah aku timbun berabad-abad lamanya. Yang pertama aku pilih adalah novel ini karena sepertinya novelnya nggak terlalu membosankan. Dan ternyata benar. Sensasi baca novel ini tuh kaya lagi nonton dorama Jepang. Aku terakhir ngerasain ini tuh waktu baca Cinderella Teeth karyanya Sakaki Tsukasa. Penulisnya nggak terlalu detil dalam deskripsi, tapi ajaibnya gambaran settingnya jelas banget, jadi mudah untuk meggambarkan kejadian demi kejadian di novel ini.
Aku per hari ini (selasa, 10 Mei 2022) belum selesai bacanya. Masih ada satu bab lagi, bab paling penting karena klimaks dari seluruh kasus yang ada di buku ini adanya di bab ini. Tapi kemarin aku sampe di bab yang bikin aku amazed. Memang sih penulisnya punya latar belakang sebagai seorang dokter, tapi percakapan antara dokter bedah kecantikan dan ahli anastesi pada salah satu kasus yang mereka tangani ini bagus banget. Mendalam tapi sederhana, layaknya denger dokter lagi menjelaskan sebuah penyakit kepada orang awam yang nggak punya pengetahuan mengenai penyakit itu sama sekali.
Sangat komprehensif pembahasan aspek psikologisnya. Memang dokter juga belajar tentang psikologi dan harus menguasai kondisi psikologis pasiennya, apalagi ini kasusnya pasien bedah kecantikan. Tapi baca penjelasananya, inget-inget lagi bagaimana dia menangani kasus-kasus sebelumnya, bagaimana dia menyelesaikan masalah yang ada, rasanya si Takayuki Hiiragi ini keren banget. Tapi... Dia juga bisa jadi antagonis di bab selanjutnya (karena novel Jepang keluaran Penerbit Haru itu paling demen munculin plot twist), jadi kerennya seorang Takayuki Hiiragi berhenti sampe di percakapan ini aja.
"Kau tidak sadar? Dia adalah pasien dengan penyakit mental yang luar biasa. Gangguan Dismorfik Tubuh, atau biasa disebut juga Body Dismorphyc Disorder. Penyakit itu termasuk ke dalam jenis gangguan obsesif-kompulsif. Penderitanya terus berpikir bahwa penampilannya jelek dan itu sampai mengganggu kehidupan sehari-harinya. Hal ini sering ditemukan pada pasien yang ingin melakukan operasi kecantikan."
"Karena yang bisa disembuhkan dengan operasi hanya penderita gangguan dismorfik tubuh ringan. Gangguan Amagi Mai tidak bisa diselesaikan dengan sebatas mengubah wajahnya saja. Pada kenyataannya, mungkin dia tidak terlalu memikirkan dia cantik atau tidak. Saat dia sadar bahwa itu adalah wajahnya, hatinya akan segera mendefinisikan sebagai 'jelek'."
"Penyebabnya mungkin ada pada masa ketika dia debut sampai menjadi terkenal. Pada saat itu direktur agensinya selalu mengatakan 'wajahmu tidak menjual'. Di tengah-tengah depresi karena tidak terkenal, kata-kata presdir menjadi sugesti, sehingga hatinya selalu berpikir bahwa dia jelek."
"Banyak pasien dengan gangguan dismorfik tubuh yang parah seperti dia terus-terusan bersusah payah melakukan operasi kecantikan untuk mengubah dirinya yang jelek. Tetapi seberapapun dia operasi, gangguan itu tidak akan sembuh. Karena mereka berpikir bahwa keberadaannyalah yang jelek. Lalu dia akan melakukan operasi lagi. Benar-benar pasir hisap tanpa dasar. Semakin lama akan semakin terjebak, sampai tidak bisa bernapas. Tidak heran kalau pilihan terakhirnya adalah bunuh diri."
"Gangguan dismorfik tubuh bukanlah penyakit yang mudah disembuhkan. Untuk menyembuhkannya, kita perlu menghilangkan keyakinan 'aku jelek' yang terukir jauh dalam hatinya. Penyembuhannya sangat sulit, loh."
Favorite book? Fiction book? Or a non-fiction book? Ah… I never do a non-fiction review before this. I need time for preparing to write those review. So instead, I will write about my favorite fictional books.
I used to say that my fave book of all time is Sidney Sheldon’s Nothing Lasts Forever. I love most of his books but Nothing Lasts Forever is an absolute mind blowing to me. It’s about three women doctor that involve in a murder case. Full of twist and unexpected ending.
There some reasons why I love Sidney Sheldon’s books all the time. First reason is 99% of Sidney Sheldon’s books have women as the main character. He always potrait all of his main characters as a strong independent woman that stand up for live. And he really good at making a female point of view.
Second reason is he really do his research for each of his books. He never publish a book with short break. Because he really dig deep in every single setting and background story of each books. And lastly, speciall for Nothing Lasts Forever, this books really feels like a med TV drama. The details, the intense emotion, everything feels real even just by read at it.
But for now, I have several new fave books. It will be Jodi Picoult’s My Sister Keeper, Akiyoshi Rikako’s Giselle and Minato Kanae’s Confession. Those books have a similarity with Sidney Sheldon’s Nothing Last Forever. It is those books using a multiple point of view to help readers understand the single situation happened through the book. I turned out love this style of writing better than author point of view of single character point of view. Giselle and My Sister Keeper is the first book I read from each of those author and the books makes me actually fall in love with the authors way on story telling. Since then, I try my best to buy every books from the author (this makes me remember I haven’t buy Minato Kanae’s Penance ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤).
Each of those books have a quite different theme, but still as equal attracting as others. And… Guess what! Those books have another similarity with Nothing Last Forever. It is…
PLOT TWIST!
I didn’t expect to get a plot twist when I read My Sister Keeper since it is a family drama book. But… Yeah… You have it. That book have unexpected plot that you will definitely enjoyed. As I enjoyed how 5 of the family members show their thought throught each chapter (plus 2 additional members, the social worker who assisst the youngest child and a lawyer that handle the case), the story comes ups and downs and then twisted… Like you’ve never imagine it would happened. Don’t compare it with the movie version. You wouldn’t get the excitement that I mention here.
As for Confession, I know that this mystery book must contain a twist. That’s why when I read it, I didn’t expect anything or thinking what would happen next. I just go with the plot and still… I GOT SHOCK WHEN I REACH THE END OF THE BOOK!!! Indeed! This books is masterpiece. And… Thank God I didn’t know that this book already have a movie version. I don’t know how good they picture the story, but I am a believer on ‘books will better than the movie version’.
For Giselle, this book isn’t the first book of Akiyoshi Rikako that I read. I had her others books. But this one really blow my mind. This is also a mystery book. But it has a beautiful-horror setting, which is a preparation on ballet stage of Giselle. Just like when I read Confession, I try not to think about what would happen and what kind of twist I might get. And because of this, I spend around 4 hours on Starbucks just to finish this book (because I can’t take my hands off this book). This book is ABSOLUTELY THE BEST STORY of Akiyoshi Rikako-sensei (my sister told me to read Holy mother first before make this judgement, but I need to say this though).
As for now, all of those 4 books I mention above are my favorite books. If you ask me later, this might be change. Jody Picoult has another book with multiple point a view like My sister Keeper, I will read Akiyoshi Rikako’s Holy Mother and Memory of Glass. Plus… I will order Minato Kanae’s Penance. Or I might get another favorite from other author. Let’s see again soon if this list change or not. Until then… Try to read those books yourself so you can feel what I feel from reading them.
Ini toh buku yang judulnya lagi sering seliweran di News Feed FB. Buatannya Adithya Mulya, suaminya Ninit Yunita (Test Pack). Baru baca 8 halaman dan akhirnya memutuskan… Harus dibaca sampe selesai. Maaf ya buku yang lain. Kalian nunggu ini selesai dulu baru dibaca. Because I believe this book is as good as Adithya Mulya’s other book. #reading #novel #SabtuBersamaBapak #GoodReads #AdithyaMulya #Family
“I sometimes wonder why we stay up late uploading photos and messages to Facebook, Twitter, Instagram, etc. No one forces us to; it’s simply that we want to share with the world what we did that day, what we thought about, what photo we took. I think this has to do with the fact that we want someone to listen to what we have to say, even if that someone is the inpersonal online world.” (Haemin Sunim, 2018)
Starlight Day
A star can't shine without Starlight, and Starlight has no meaning without the star
Current Fave Song
Blog Archive
Current Status
Mencoba menulis kembali karena kondisi kesehatan mentalku sudah mulai membaik.